Cerita Kungfu

Membaca cerita kungfu atau silat. Ajaib dan menyenangkan. Ajaib, karena tokohnya seorang pemuda tampan, berhati lembut dan bijak, sangat ahli obat-obatan dari daun-daunan sejak umur tujuh tahun, kemudian berguru pada seorang pangeran maha sakti, dan dia juga rajin membaca kitab-kitab kuno tentang inti sari ilmu silat, danpangeran itu juga mengajarunya ilmu tusuk jarum untuk pengobatan. Waw. Sempurna banget. Gagah, tampan, lembut dan bijak, sangat ahli dalam kungfu, ahli obat-obatan, dan pandai akupunktur.

Menyenangkan, karena jagoannya menang.

Pertanyaan yang muncul adalah, kenapa jagoan harus menang? Yah kalo gak menang bukan jagoan namanya. Ok, pertanyaannya diganti. Kenapa tokoh dari aliran putih yang menang? Kenapa perampok, pengemis yang suka memeras, pemilik rumah bordil dan perjudian gak menang? Yah, memang begitu ceritanya ditulis oleh si pengarang.

Yang ditulis oleh si pengarang adalah kerinduan kita, bahwa sang pemenang adalah orang "dari aliran putih". Tapi kerinduan ini menjadikan kita beropini bahwa yang dari aliran putih adalah yang menang. Dan akhirnya muncul motivasi bahwa untuk jadi aliran putih kita harus jadi pemenang. Dan ketika kita tidak bisa menang maka yang sekarang menang adalah aliran hitam, hanya saja kita sedang berada di tengah-tengah cerita, di mana aliran hitam sedang meraja lela dan aliran putih akan menang lagi di akhir cerita.

Lalu apa yang terjadi. Pihak "non-pemenang" akan merasakan timbulnya keinginan atau harapan untuk kehancuran sang "pemenang".

Dengki! Dengki akan menghancurkan amal-amal baik kita seperti api menghabiskan kayu bakar.

Comments

Anonymous said…
ih ga suka cerita kungfu. capek bacanya. :D

lam kenal hariman. met gabung dg blogfam. acc membernya sdh diaktifkan. ditunggu sapa nya di perkenalan.

Popular posts from this blog

Waves and Volcano

Singa

Pulanglah jiwa