Singa

Pada umumnya orang merasa takut berhadapan dengan singa. Mereka beranggapan bahwa singa pasti akan menerkam mereka. Ini suatu anggapan yang keliru. Pada kenyataannya singa menyerang hanya pada saat diperlukan. Misalnya saat berburu mangsa, saat berkelahi untuk mempertahankan wilayah, saat merasa terancam, saat merasa lapar, saat merasa frustasi, atau saat bertemu manusia.

Kalaupun singa menyerang anda, tidak perlu panik, karena pada umumnya serangan singa tidak mematikan. Serangannya hanya bersikap melumpuhkan. Singa tidak membunuh mangsanya. Mereka lebih suka memakan mangsanya saat masih hidup.

Mungkin anda tidak mengetahui, tapi ada yang menulis tentang bahasa yang digunakan oleh singa. Sebenarnya singa memiliki suatu bahasa yang bisa dipelajari. Jika anda bisa menguasainya, anda bisa mengatakan padanya untuk tidak menyerang anda. Berikut sedikit panduan mempelajari bahasa singa.


  1. Secara Mayoritas bahasa yang digunakan bukan bahasa lisan, tetapi bahasa tubuh. Misalnya mengoyang-goyangkan ekor, menegakkan surai, berjalan bolak-balik atau memejamkan mata.
  2. Bahasa lisan yang digunakan oleh singa hanya memiliki SATU BUAH konsonan, yang jika ditulis dengan huruf manusia adalah huruf R. Namun berbeda dengan manusia, frekuensi, amplitudo, dan harmonisa pada konsonan tersebut bisa mengubah arti. Juga panjang pendeknya sangat berpengaruh dalam menentukan makna yang dimaksud olehnya.
    Ketika akan memulai suatu bahasa lisan, biasanya singa mengeluarkan suatu konsonan yang sangat dekat dengan suara H. Namun itu bukanlah konsonan sebenarnya, karena tidak memiliki arti, hanya akibat dari perubahan bentuk moncong saja. Juga ketika mengakhiri suatu kata, mereka akan mengeluarkan suatu konsonan yang mirip sekali dengan hurup M. Jadi ada 3 konsonan yang dimiliki singa tetapi hanya ada satu yang memiliki arti.
  3. Singa tidak memiliki vokal, atau vokal pada bahasa singa tidak memiliki arti. Jadi suara singa yang Hruaaam atau Hraeeem sama saja artinya asal frekuensi, amplitudo, harmonisa, dan panjangnya sama.
  4. Singa mengeluarkan suara bukan untuk berkomunikasi, artinya dia tidak peduli lawan bicaranya mengerti atau tidak. Dia tidak membutuhkan jawaban, jadi tidak ada bentuk kalimat tanya pada bahasa singa. Singa mengeluarkan suara untuk mengekspresikan keinginannya atau kondisi dirinya. Jadi dari satu sisi, singa bisa diibaratkan seperti pelukis abstrak atau penyair kontemporer.
  5. Untuk kepentingan mempelajari bahasa singa, kita akan memberi lambang untuk konsonan-konsonan tersebut.
  • (H) = konsonan pembuka suatu kata. boleh disuarakan, boleh tidak, namun singa yang lebih tua biasanya mengeluarkan suara tersebut. jadi disarankan untuk menyuarakannya, untuk menambah wibawa.
  • (m) = konsonan penutup suatu kata, harus disuarakan, namun tidak ada artinya.
  • R = konsonan R frekuensi tinggi
  • r = konsonan R frekuensi rendah
  • (r) = konsonan R frekuensi sedang
  • tanda plus dibelakang konsonan R = amplitudo tinggi (suara kencang)
  • tanda minus dibelakang konsonan R = amplitudo rendah (suara pelan)
  • tanda sama dengan dibelakang konsonan R = amplitudo sedang
  • nx = artinya n buah harmonisa
  • nT = artinya panjang konsonan tersebut n milisecond

contoh : (H)R=2x200T(r)=3x300T(m)

artinya konsonan pembuka (H), dilanjutkan dengan konsonan R dengan frekuensi tinggi amplitudo sedang dengan dua buah harmonisa selama 200 milisecond dilanjutkan dengan konsonan R frekuensi sedang amplitudo sedang dengan 3 buah harmonisa selama 300 milisecond dan ditutup dengan konsonan (m).

Kiranya hanya sampai di sini tulisan saya kali ini. Mungkin di kesempatan lain akan saya lanjutkan dengan sebuah kamus mini bahasa singa. Dan tips terakhir dari saya, jika anda tidak ingin dikejar oleh singa, jangan lari!

Penulis adalah seorang engineer pada sebuah perusahaan telekomunikasi satelit dan terrestrial.

Comments

Anonymous said…
Ada sepupu singa yang lebih beruntung daripadanya, yakni harimau. Harimau lebih beruntung daripada singa, karena harimau bisa memakan buah durian. Berbeda dengan gajah, yang akan mennghancurkan durian sampai lecet waktu memakannya, maka harimau akan memakan durian dengan rapi sekali. Dia akan membuka kulit durian, dan setelah makan maka biji-biji durian akan ditaruh rapi disamping kulitnya. Singa terus terang tidak memiliki luxury yang dipunyai oleh harimau ini. Ada lagi binantang yang berbeda RW dengan singa tapi satu RT dengan harimau adalah Beruang. Suatu waktu, seorang pemburu beruang di rimba sumatra meriwayatkan bahwa beruang suka memanjat Pohon, terutama untuk mencari madu. Bagaimana beruang naik ke pohon bisa dibayangkan, tetapi tahukah anda bagaimana beruang turun dari Pohon ? Cara beruang turun berbeda dengan caranya memanjat, yakini begitu turun dia akan langsung menjatuhkan badannya begitu saja..BUKKKKKKKKKKKKK begitu bunyinya...it was funny to see how beruang turun dari pohon dan jatuh menimpa harimau yang sedang makan durian dibawahnya. Akankah harimau pingsan..ataukah harimau akan lari ketakutan karena terkejut dan pusing ? ataukah harimau akan berkelahi dengan beruang ? Mana yang lebih kuat antara harimau dan beruang masih menjadi misteri..namun kisah yang diriwayatkan oleh seorang Belanda yang berkelana di rimba sumatra di awal abad 18 dahulu menyebutkan hasil seri. Harimau mati karena lehernya dipatahkan tangan beruang sedangkan beruang mati karena lehernya ditusuk oleh cakar harimau yang tajam.

cheers,
.ari noviandi
(lagi nggak ada kerjaan).

Popular posts from this blog

Test posting dari 6515

Waves and Volcano