Teknologi Sebagai Pembuang Waktu.
Berapa waktu yang kita habiskan untuk membuang waktu dengan teknologi? Berapa persen dari waktu yang kita miliki yang kita lewati bersama teknologi karena pada saat itu kita tidak memiliki sesuatu untuk dilakukan?
Menonton TV, DVD, main game, browsing internet, chatting, ngoprek handphone dan PDA, dll. Itu semua kita lakukan kala kita 'iseng', gak ada kerjaan, bete, menunggu antrian, dan lain-lain. Tujuan utama kita melakukan itu adalah mengalihkan perhatian kita, mengalihkan kesadaran kita, dari dunia nyata yang saat itu ada di sekitar kita. Selama waktu tertentu -mungkin hanya sekian menit atau bisa berjam-jam- kesadaran kita ada pada dunia yang diciptakan oleh teknologi itu. Ketika nonton film cowboy, dunia kita adalah dunia cowboy dan logika kita adalah logika peradaban cowboy. Ketika main Counter Strike, dunia kita adalah dunia terorisme dan logika kita adalah 'kill or be killed'. Ketika chatting, browsing internet, dan lain-lain, dunia dan logika kita pun menyesuaikan dengan apa yang dihasilkan oleh teknologi itu. Dan, kita inginkan atau tidak, dunia dan logika tersebut tersimpan di dalam memori kita. Dan itu akan mempengaruhi logika yang kita gunakan di dunia nyata.
Film adalah yang paling besar pengaruhnya dalam hal ini. Karena film memang dirancang dengan suatu pesan tertentu, dengan suatu logika tertentu. Logika film yang sangat berbahaya adalah logika happy ending. Banyak sekali film-film yang menggambarkan tokohnya melakukan hal-hal yang tidak baik, namun di akhir film bisa mengusahakan atau menjadi beruntung sehingga menjadi baik. Pembunuh yang bertobat di akhir cerita, mahasiswa yang suka mabuk ganja namun akhirnya bisa menjadi orang sukses, penjahat yang menolong anak kecil, dan masih banyak lagi. Happy ending ini akan membentuk logika kita di dunia nyata bahwa boleh-boleh saja berbuat jahat, toh nanti kita akan bertobat, atau boleh-boleh saja tidak mempedulikan nilai-nilai, nanti pun kita akan menjadi orang sukses. Saya menyebut ini happy ending syndrome.
Game juga cukup besar pengaruhnya. Logika dalam game adalah anda melakukan apa pun untuk memenangkan permainan, dan kalau anda kalah atau gagal, anda selalu bisa mengulang dari awal. Banyak trial and error yang kita lakukan tanpa banyak beban, karena kita bisa mengulang lagi. Apa jadinya kalau logika ini menjadi logika kita di dunia nyata. Kita akan lebih mudah mengambil keputusan dan bertindak, tidak perlu pertimbangan dan pemikiran yang mendalam, karena kalau gagal atau kalah, kita bisa mereset lagi.
Saat ini memang keadaan dan tingkat kehidupan seolah membuat pengalih kesadaran itu dibutuhkan. Rutinitas pekerjaan membuat kita merasa bahwa di luar jam kerja kita 'tidak ada kerjaan lagi' dan menghabiskan waktu untuk kesenangan kita. Tekanan di tempat kerja membuat kita ingin melupakan kesadaran di dunia nyata dan memasuki kesadaran yang lain. Perlakuan dan perilaku masyarakat di sekitar kita membuat kita mencari masyarakat dan komunitas baru, walaupun dalam bentuk kesadaran semu. Bahkan bagi beberapa bagian individu, kesadaran yang diciptakan oleh teknologi ini lebih dominan daripada kesadaran akan dunia nyata.
Dan yang sangat penting, selama kita mengalihkan perhatian itu, waktu terus berjalan. Padahal waktu adalah modal paling utama bagi manusia.
Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
Menonton TV, DVD, main game, browsing internet, chatting, ngoprek handphone dan PDA, dll. Itu semua kita lakukan kala kita 'iseng', gak ada kerjaan, bete, menunggu antrian, dan lain-lain. Tujuan utama kita melakukan itu adalah mengalihkan perhatian kita, mengalihkan kesadaran kita, dari dunia nyata yang saat itu ada di sekitar kita. Selama waktu tertentu -mungkin hanya sekian menit atau bisa berjam-jam- kesadaran kita ada pada dunia yang diciptakan oleh teknologi itu. Ketika nonton film cowboy, dunia kita adalah dunia cowboy dan logika kita adalah logika peradaban cowboy. Ketika main Counter Strike, dunia kita adalah dunia terorisme dan logika kita adalah 'kill or be killed'. Ketika chatting, browsing internet, dan lain-lain, dunia dan logika kita pun menyesuaikan dengan apa yang dihasilkan oleh teknologi itu. Dan, kita inginkan atau tidak, dunia dan logika tersebut tersimpan di dalam memori kita. Dan itu akan mempengaruhi logika yang kita gunakan di dunia nyata.
Film adalah yang paling besar pengaruhnya dalam hal ini. Karena film memang dirancang dengan suatu pesan tertentu, dengan suatu logika tertentu. Logika film yang sangat berbahaya adalah logika happy ending. Banyak sekali film-film yang menggambarkan tokohnya melakukan hal-hal yang tidak baik, namun di akhir film bisa mengusahakan atau menjadi beruntung sehingga menjadi baik. Pembunuh yang bertobat di akhir cerita, mahasiswa yang suka mabuk ganja namun akhirnya bisa menjadi orang sukses, penjahat yang menolong anak kecil, dan masih banyak lagi. Happy ending ini akan membentuk logika kita di dunia nyata bahwa boleh-boleh saja berbuat jahat, toh nanti kita akan bertobat, atau boleh-boleh saja tidak mempedulikan nilai-nilai, nanti pun kita akan menjadi orang sukses. Saya menyebut ini happy ending syndrome.
Game juga cukup besar pengaruhnya. Logika dalam game adalah anda melakukan apa pun untuk memenangkan permainan, dan kalau anda kalah atau gagal, anda selalu bisa mengulang dari awal. Banyak trial and error yang kita lakukan tanpa banyak beban, karena kita bisa mengulang lagi. Apa jadinya kalau logika ini menjadi logika kita di dunia nyata. Kita akan lebih mudah mengambil keputusan dan bertindak, tidak perlu pertimbangan dan pemikiran yang mendalam, karena kalau gagal atau kalah, kita bisa mereset lagi.
Saat ini memang keadaan dan tingkat kehidupan seolah membuat pengalih kesadaran itu dibutuhkan. Rutinitas pekerjaan membuat kita merasa bahwa di luar jam kerja kita 'tidak ada kerjaan lagi' dan menghabiskan waktu untuk kesenangan kita. Tekanan di tempat kerja membuat kita ingin melupakan kesadaran di dunia nyata dan memasuki kesadaran yang lain. Perlakuan dan perilaku masyarakat di sekitar kita membuat kita mencari masyarakat dan komunitas baru, walaupun dalam bentuk kesadaran semu. Bahkan bagi beberapa bagian individu, kesadaran yang diciptakan oleh teknologi ini lebih dominan daripada kesadaran akan dunia nyata.
Dan yang sangat penting, selama kita mengalihkan perhatian itu, waktu terus berjalan. Padahal waktu adalah modal paling utama bagi manusia.
Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
Comments